TUGAS MANDIRI 14

 E01 Reza Apriansyah


Integritas di Persimpangan Jalan: Refleksi Akademik dan Komitmen Profesional




Pendahuluan



Bagi saya, integritas bukan sekadar konsep moral yang idealistis, melainkan fondasi utama yang menentukan kualitas seseorang, baik sebagai mahasiswa maupun sebagai calon profesional. Integritas saya pahami sebagai keselarasan antara pikiran, perkataan, dan tindakan, terutama ketika tidak ada pengawasan eksternal. Dalam konteks akademik, integritas menjadi krusial karena kampus bukan hanya tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan karakter. Seorang mahasiswa tidak sekadar dipersiapkan untuk lulus dan memperoleh ijazah, melainkan untuk memikul tanggung jawab intelektual dan sosial di tengah masyarakat. Tanpa integritas, prestasi akademik kehilangan makna, dan ilmu pengetahuan justru berpotensi disalahgunakan. Oleh karena itu, bagi saya, kejujuran akademik adalah investasi karakter jangka panjang yang menentukan kualitas diri di masa depan.



Batang Tubuh



Dalam realitas kehidupan kampus, kejujuran akademik sering kali berada dalam posisi yang rapuh. Tekanan akademik, tuntutan nilai, keterbatasan waktu, serta budaya permisif terhadap kecurangan membuat integritas menjadi nilai yang mudah dikompromikan. Saya menyadari bahwa tantangan terbesar bukanlah memahami materi kuliah, melainkan menghadapi godaan untuk mengambil jalan pintas. Praktik plagiarisme, titip absen, hingga bekerja sama saat ujian kerap dianggap sebagai hal lumrah, bahkan dipandang sebagai bentuk solidaritas antarteman.


Saya pernah berada dalam situasi ketika integritas saya benar-benar diuji. Seorang teman dekat meminta jawaban saat ujian berlangsung dengan alasan takut tidak lulus. Di satu sisi, ada rasa tidak enak dan kekhawatiran akan merusak hubungan pertemanan. Namun, di sisi lain, saya menyadari bahwa membantu dalam konteks tersebut berarti ikut terlibat dalam tindakan tidak jujur. Keputusan untuk menolak bukanlah hal yang mudah, karena ada risiko dicap egois atau tidak setia kawan. Namun, saya memilih mempertahankan prinsip, karena saya percaya bahwa membiarkan ketidakjujuran, sekecil apa pun, adalah awal dari pembiasaan mental curang.


Godaan lain yang juga sering saya hadapi adalah plagiarisme dalam penulisan tugas. Kemudahan akses internet dan teknologi kecerdasan buatan membuat proses menyalin dan memodifikasi tulisan orang lain terasa sangat praktis. Namun, saya menyadari bahwa memilih kejujuran intelektual—meskipun hasilnya mungkin tidak sempurna—jauh lebih bernilai daripada mendapatkan nilai tinggi dari hasil manipulasi. Proses berpikir mandiri, meskipun melelahkan, justru membentuk daya kritis dan kepercayaan diri akademik saya.


Jika ditarik ke konteks yang lebih luas, sulitnya menegakkan integritas di kampus sejatinya merupakan refleksi dari problem integritas di masyarakat. Dalam kehidupan bermasyarakat saat ini, kita kerap menyaksikan korupsi yang dilakukan secara sistematis, penyebaran hoaks di ruang digital, serta berbagai bentuk ketidakjujuran di ruang publik. Menurut pengamatan saya, salah satu penyebab utama lemahnya integritas adalah budaya yang terlalu menekankan hasil akhir dibandingkan proses. Kesuksesan sering diukur dari kekayaan, jabatan, dan popularitas, tanpa mempertanyakan cara mencapainya.


Fenomena korupsi, misalnya, menunjukkan bagaimana ketidakjujuran dapat dinormalisasi ketika pelaku tidak mendapatkan sanksi yang setimpal. Hal serupa juga terjadi dalam penyebaran hoaks, di mana informasi palsu disebarkan demi kepentingan politik atau ekonomi tertentu tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap persatuan sosial. Ketika ketidakjujuran terus-menerus dibiarkan, masyarakat perlahan kehilangan kepekaan moral. Orang yang jujur justru dianggap naif, sementara pelaku kecurangan dipandang sebagai sosok yang “cerdas memanfaatkan peluang”.


Kondisi ini sangat berbahaya karena menciptakan efek domino. Ketika integritas tidak lagi dihargai, maka generasi muda akan tumbuh dengan keyakinan bahwa kejujuran adalah beban, bukan nilai. Kampus, dalam konteks ini, seharusnya menjadi benteng terakhir untuk menanamkan nilai integritas sebelum mahasiswa terjun ke dunia profesional. Jika di ruang akademik saja ketidakjujuran ditoleransi, maka sulit berharap lahirnya profesional yang bersih dan bertanggung jawab.



Penutup



Menyadari kompleksitas tantangan tersebut, saya merasa perlu memiliki rencana aksi konkret untuk menjaga integritas setelah lulus dan memasuki dunia kerja. Pertama, saya akan menetapkan prinsip dan batas moral yang jelas, terutama terkait etika profesi, pelaporan kinerja, dan tanggung jawab finansial. Prinsip ini akan menjadi “garis merah” yang tidak boleh dilanggar dalam kondisi apa pun. Kedua, saya berkomitmen untuk bersikap transparan dan berani menyuarakan kebenaran, meskipun hal tersebut tidak selalu populer atau nyaman. Ketiga, saya akan terus mengembangkan kompetensi diri agar kepercayaan diri saya bersumber dari kemampuan nyata, bukan dari manipulasi atau koneksi yang tidak sehat.


Sebagai kesimpulan, integritas bukanlah tujuan akhir yang dapat dicapai secara instan, melainkan proses panjang yang penuh dengan ujian. Kejujuran akademik yang saya latih di bangku kuliah adalah fondasi bagi integritas profesional di masa depan. Saya meyakini bahwa kita tidak dapat menuntut masyarakat yang bersih dan adil jika kita sendiri masih melakukan “korupsi kecil” terhadap waktu, tanggung jawab, dan kejujuran di ruang akademik. Dengan menjaga integritas sejak sekarang, saya berkomitmen untuk menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah, dalam membangun masyarakat yang lebih bermartabat.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas mandiri 03

Tugas Terstruktur 02

Tugas Mandiri 02